KORELASI IMAN, PUASA DAN TAQWA, Kultum Kasubbag Perencanaan Umum dan Keuangan Pengadilan Agama Buntok

1.092

PA. Buntok | Selasa, 27 April 2021, Menginjak hari ke 16 pertengahan bulan suci Ramadhan Pengadilan Agama Buntok dalam mengsisi kegiatan spiritual di lingkungan Pengadilan Agama Buntok di bulan Ramadhan 1442 H melaksanakan kegiatan sholat dzuhur berjamaah di mushola Pengadilan Agama Buntok yang dilanjutkan dengan kuliah tujuh menit (kultum) tiba giliran Herliany Guspitawati,S.H.I., M.H. ( KASUBBAG PERENCANAAN UMUN DAN KEUANGAN) sebagai Narasumber dan Moderator CICA, S.H. ( PPNPN)


Dalam kesempatan kali ini Narasumber Herliany Guspitawati,S.H.I., M.H. menyampaikan kultumnya “KORELASI IMAN, PUASA DAN TAQWA”

surat Al Baqarah ayat 183, yang membahas tentang ibadah puasa. Ayat yang mulia tersebut berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman”

Iman secara bahasa artinya percaya atau membenarkan
Secara gamblang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan makna iman dalam sebuah hadits:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

“Iman adalah engkau mengimani Allah, mengimani Malaikat-Nya, mengimani Kitab-kitab-Nya, mengimani para Rasul-Nya, mengimani hari kiamat, mengimani qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk”[4]

Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Telah diwajibkan atas kamu berpuasa ”

Al-Muṣtafawī dalam kitab al-Taḥqīq fī Kalimāt al-Qurān menjelaskan Puasa dalam bahasa arab disebut dengan lafald al-ṣaum/ al-ṣiyām. yang memiliki makna dasar “Menahan dari sesuatu atau, sebagaimana yang kita pahami dalam tuntunan syariat. Yakni, menahan dari segala sesuatu yang awalnya diperbolehkan oleh syariat, dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.
Para ahli hikmah menyebutkan adanya tingkatan dalam ibadah puasa. Puasa tidak hanya sekedar dimaknai hanya sebagai menahan dari rasa haus dan lapar, atau menahan dari gairah seksual saja. Yakni: ada puasanya ahli syariat. Ada puasanya ahli tarekat. Demikian juga, ada puasanya ahli hakikat.
Tiga tingkatan puasa ini mungkin sulit digapai jika bukan karena rahmat Allah itu sendiri. Walaupun demikian, kita hendaknya selalu terus ber-mujāhadah, sehingga mendapatkan manfaat dan tujuan dari puasa, yakni mencapai derajat takwa sebenar-benarnya takwa.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertaqwa”

Thalq Bin Habib Al’Anazi menyebutkan:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”[15].

pengertian takwa tidak sekadar bersifat lahiriah berupa ‘melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan’, tetapi juga harus mencakup dimensi hati: menyadari bahwa kemampuan kita melaksanakan kewajiban itu semata-mata berkat inayah Allah. Ada kesadaran hati. Karena itu, tidak heran kalau pada suatu kesempatan Rasulullah saw. pernah bersabda, “At-taqwâ hâ hunâ.” Kalimat yang berarti ‘takwa ada di sini’ itu beliau ulang sampai tiga kali sambil menunjuk ke dada beliau yang menunjukkan bahwa ketakwaan bersumber dari dalam hati.

Hubungan Iman, Puasa, dan Taqwa

Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, tentang keterkaitan antara puasa dengan ketaqwaan: “Puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Karena orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Selain itu, keterkaitan yang lebih luas lagi antara puasa dan ketaqwaan:

Penjelasan para ahli tafsir di atas mengindikasikan bahwa keimanan dan puasa serta ketakwaan memiliki hubungan yang erat antar ketiganyanya. Puasa menjadi cerminan dari kesempurnaan keimanan seorang muslim. Keimanan seorang muslim tidak cukup percaya dan membenarkan dalam hati, namun harus diikuti amal perbuatan.

وكان الإجماع من الصحابة والتابعين من بعدهم ممن أدركناهم أن الإيمان قول وعمل ونية ، لا يجزئ واحد من الثلاثة بالآخر

Menurut konsesus para sahabat serta para tabi’in bahwa iman itu berupa perkataan, perbuatan, dan niat (perbuatan hati), jangan mengurangi salah satu pun dari tiga hal ini.
Puncak puasa seorang yang beriman adalah untuk menggapai ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa merupakan sarana dan wasilah menuju takwa karena puasa dapat menundukan nafsu dan mengekang syahwat, yang menjadi sumber dari maksiat. Sikap orang yang bertakwa bukan hanya taat beribadah secara individual dengan Tuhannya saja. Akan tetapi, ketakwaan sosial juga harus ditingkatkan. Sehingga berimbang antara hubungannya dengan Allah dan manusia. [dutaislam/in]
Predikat takwa memang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, dan merupakan pencapaian akhir dari prosesi puasa, bukan hanya bentuk dari melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala. Akan tetapi harus memiliki dimensi yang lebih luas yakni membekas secara individu sehingga membentuk diri pribadi menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.


“Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semua dan bagi saya pribadi khususnya, dan kita dapat meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dengan Ihklas, dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya”. Tutup beliau.


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1442 H
Kultum berjalan lancar dan ditutup dengan mengucap Hamdala.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Klik Disini ya
Ada yang bisa kami bantu?
Ada yang bisa kami bantu?